Kadang mulut lelaki memang terlalu pintar, ada saja alasan saat ia melakukan kesalahan atau melupakan sesuatu.
Kau pikir wanita mudah kau rayu dengan mulut manismu itu?
Asal kau tahu, ingatan wanita kadang lebih kuat dari ingatan orang paling pintar sekalipun dan kemampuan wanita untuk mencari tahu pun kadang lebih hebat dari detective terbaik.
Jangan meremehkan wanita apalagi membuatnya seolah tampak tak berharga di hadapanmu, hanya karena kau tak tahu bagaimana besarnya kekuatan wanita.
Percayalah jika wanita itu selalu ingat setiap kata yang kau ucap jika dirasa itu penting, apalagi sebuah janji.
Terus jika janji itu tak kau tepati? Mulutmu harimaumu :)
Sudah cukup lah mulut manismu itu jika hanya untuk menyenangkan hati wanitamu sesaat :)
Monday, February 15, 2016
Wednesday, January 27, 2016
Distance
Ternyata cerita tentang jarak selalu sama. Rasa yang sama, luka yang sama. Jarak mungkin tidak berarti apa-apa bagi sebagian orang, tapi tak sedikit yang jarak menyisakan cerita tersendiri. Suka duka karena jarak. Beruntunglah bagi yang mampi melawan jarak, bagi yang tidak mampu? Akan kalah melawan jarak yang akhirnya menyerah akan keadaan.
Pernah waktu itu menonton youtube video kisah cinta dua artis. Yah mereka pernah dipisahkan jarak berbeda negara, Singapura-Indonesia. Mungkin awalnya memang baik-baik saja, namun lama kelamaan hubungan menjadi renggang. Masalah kesibukan, komunikasi, dan intensitas bertemu. Tapi sayang aku bukan artis yang bisa dengan mudah terbang ke tempat penyebab jarak itu. Aku hanya seorang mahasiswa kere yang bahkan ketika ingin membeli sesuatu harus berpikir seribu kali. Bagaimana bisa aku membeli tiket pesawat atau kereta yang harganya sama seperti uang sakuku selama satu bulan? Bagaimana mungkin pula orang tuaku akan membiarkan anaknya seorang diri pergi ke tempat jauh? Yang bisa aku lakukan hanya diam di tempat, menunggu, hanya bisa menunggu.
Banyak orang bilang hubungan jarak jauh pada akhirnya akan kandas juga. Awalnya aku hanya pasrah apa yang akan terjadi di depan nanti. Pada Akhirnya aku mengalami masalah klasik dalam hubungan jarak jauh. Jarak kita terlalu jauh. Sedangkan aku bukan orang yang mampu melawan jarak. Aku kehilangan alasan mengapa aku harus menunggu, sedangkan aku bukan hanya mencari pasangan namun mencari teman yang mampu menemaniku. Faktanya dalam hubungan jarak jauh, komunikasi hanya bisa melalui telepon, chat dan sejenisnya. Bahkan itu semua tidak memecahkan kesunyianku.
Pada akhirnya intesitas bertemu menjadi alasan kuat mengapa aku tak ingin lagi membuat cerita tentang jarak. Lelah ketika aku merindu, aku atau kita tak mampu berbuat apa-apa. Rindu yang tak terbalas itu sungguh menyakitkan. Apalagi ketika salah satu pihak terlalu sibuk dengan pekerjaannya hingga enggan meluangkan waktunya untuk sekedar bertemu. Seandainya aku bukan mahasiswa kere dan seorang anak yang mudah mendapat kepercayaan orang tua, mungkin aku sudah menemuinya sekarang. Faktanya tidak demikian.
Aku tidak paham perjuangan seperti apa yang harus dilakukan dalam hubungan jarak jauh. Yang aku tahu salah satu harus meluangkan waktu dan materi ditengah kesibukannya. Mungkin dengan cara seperti itu aku tahu seperti apa perjuangan itu dan seberapa penting aku dibutuhkan dan dipedulikan. Kalau itu semua tidak, lalu untuk apa?
Aku enggan membuat cerita lagi. Terlalu menyakitkan dan begitu banyak perasaan yang harus dikorbankan. Lebih baik tak ada cerita sehingga kita bisa menjalani hidup masing-masing di tempat yang berbeda tanpa harus saling menyakiti dan tanpa adanya harapan semu dari menunggu. Sudah cukup cerita ini.
Aku enggan bermain-main dengan hati lagi. Terlebih lagi ternyata umurku sudah dewasa dan sudah waktunya untuk mencari yang terakhir. Cukup lah pacaran ala ala remaja. Sempat terpikir, jika memang serius denganku, mengapa tak datangi saja orang tuaku? Entahlah :)
Pernah waktu itu menonton youtube video kisah cinta dua artis. Yah mereka pernah dipisahkan jarak berbeda negara, Singapura-Indonesia. Mungkin awalnya memang baik-baik saja, namun lama kelamaan hubungan menjadi renggang. Masalah kesibukan, komunikasi, dan intensitas bertemu. Tapi sayang aku bukan artis yang bisa dengan mudah terbang ke tempat penyebab jarak itu. Aku hanya seorang mahasiswa kere yang bahkan ketika ingin membeli sesuatu harus berpikir seribu kali. Bagaimana bisa aku membeli tiket pesawat atau kereta yang harganya sama seperti uang sakuku selama satu bulan? Bagaimana mungkin pula orang tuaku akan membiarkan anaknya seorang diri pergi ke tempat jauh? Yang bisa aku lakukan hanya diam di tempat, menunggu, hanya bisa menunggu.
Banyak orang bilang hubungan jarak jauh pada akhirnya akan kandas juga. Awalnya aku hanya pasrah apa yang akan terjadi di depan nanti. Pada Akhirnya aku mengalami masalah klasik dalam hubungan jarak jauh. Jarak kita terlalu jauh. Sedangkan aku bukan orang yang mampu melawan jarak. Aku kehilangan alasan mengapa aku harus menunggu, sedangkan aku bukan hanya mencari pasangan namun mencari teman yang mampu menemaniku. Faktanya dalam hubungan jarak jauh, komunikasi hanya bisa melalui telepon, chat dan sejenisnya. Bahkan itu semua tidak memecahkan kesunyianku.
Pada akhirnya intesitas bertemu menjadi alasan kuat mengapa aku tak ingin lagi membuat cerita tentang jarak. Lelah ketika aku merindu, aku atau kita tak mampu berbuat apa-apa. Rindu yang tak terbalas itu sungguh menyakitkan. Apalagi ketika salah satu pihak terlalu sibuk dengan pekerjaannya hingga enggan meluangkan waktunya untuk sekedar bertemu. Seandainya aku bukan mahasiswa kere dan seorang anak yang mudah mendapat kepercayaan orang tua, mungkin aku sudah menemuinya sekarang. Faktanya tidak demikian.
Aku tidak paham perjuangan seperti apa yang harus dilakukan dalam hubungan jarak jauh. Yang aku tahu salah satu harus meluangkan waktu dan materi ditengah kesibukannya. Mungkin dengan cara seperti itu aku tahu seperti apa perjuangan itu dan seberapa penting aku dibutuhkan dan dipedulikan. Kalau itu semua tidak, lalu untuk apa?
Aku enggan membuat cerita lagi. Terlalu menyakitkan dan begitu banyak perasaan yang harus dikorbankan. Lebih baik tak ada cerita sehingga kita bisa menjalani hidup masing-masing di tempat yang berbeda tanpa harus saling menyakiti dan tanpa adanya harapan semu dari menunggu. Sudah cukup cerita ini.
Aku enggan bermain-main dengan hati lagi. Terlebih lagi ternyata umurku sudah dewasa dan sudah waktunya untuk mencari yang terakhir. Cukup lah pacaran ala ala remaja. Sempat terpikir, jika memang serius denganku, mengapa tak datangi saja orang tuaku? Entahlah :)
Friday, January 22, 2016
hm :)
if all story have same ending, then why you make another story? it's better not make story again if you know how the ending.
mungkin sudah saatnya aku balik cari buku toko buku, cari buku lain kalau satu buku sudah selesai dibaca. itu satu-satunya cara menyibukkan diri ketika aku merasa sendiri dan tak berteman. perasaan sendiri perasaan yang paling aku benci tapi nyatanya selalu aku alami. tersiksa tapi aku bisa apa? kalau takdir saja menyuruhku untuk tetap sendiri.
jujur udah gak ngerti harus ngetik apa lagi ini, cari kalimat yang pas juga gak bisa.
cuman bisa bilang...
welcome again loneliness.
semakin erat di aku. lelah sama orang sok peduli, sok mau nemenin aku, nyatanya juga ninggal.
mbongi lelah dan semakin lelah.
seperti gak akan berakhir.. rasanya.
11 years and still counting without know when it will end.
aku sudah cukup lelah membuat cerita.
maybe it just my fate, and I can't avoid it :)
where's happiness? I'm too tired to find it.
mungkin sudah saatnya aku balik cari buku toko buku, cari buku lain kalau satu buku sudah selesai dibaca. itu satu-satunya cara menyibukkan diri ketika aku merasa sendiri dan tak berteman. perasaan sendiri perasaan yang paling aku benci tapi nyatanya selalu aku alami. tersiksa tapi aku bisa apa? kalau takdir saja menyuruhku untuk tetap sendiri.
jujur udah gak ngerti harus ngetik apa lagi ini, cari kalimat yang pas juga gak bisa.
cuman bisa bilang...
welcome again loneliness.
semakin erat di aku. lelah sama orang sok peduli, sok mau nemenin aku, nyatanya juga ninggal.
mbongi lelah dan semakin lelah.
seperti gak akan berakhir.. rasanya.
11 years and still counting without know when it will end.
aku sudah cukup lelah membuat cerita.
maybe it just my fate, and I can't avoid it :)
where's happiness? I'm too tired to find it.
Thursday, December 31, 2015
end of 2015
Alhamdulillah ketemu lagi sama penghujung tahun. akhir tahun biasanya jadi ajang evaluasi diri. apa yang udah dilakukan selama setahun terakhir ini... apa hidup mengalami peningkatan atau malah mrosot?
tahun 2015 ngerasain semuanya, bahagia, sedih, marah, kecewa, hampir semua kata ungkapan ekspresi. ada hal-hal yang berubah drastis, ada juga hal yang sama sekali tidak berubah. tapi apapun itu tetep bersyukur udah diberi kesempatan ngerasain 2015.
mungkin hal yang terus terjadi dari tahun 2000 sekian sampai sekarang gak pernah berubah. kadang mikir, yaudahlah emang gini keadaannya mau gimana lagi. sedih, cemburu, kecewa jadi satu dan terus terulang. bukankah tidak seharusnya aku mencemburui hal semacam itu? faktanya aku selalu tersenyum sinis kala melihat orang lain :') alhamdulillahnya, mereka sudah mulai menganggapku dewasa, percaya aku sudah bisa menjaga diriku sendiri. dan untuk pertama kalinya beberapa hari yang lalu mereka mendengarkanku :')
2015, jadi akhir malas-malasan kuliah. sudah saatnya fokus, walaupun kadang nyesel. ternyata ngelakuin hal yang bukan passion kita itu berat banget. bahkan aku gak tau nanti gimana. dan menyesalnya, harusnya aku fokus sejak dulu...dan gak pernah coba-coba. dan kenapa rasanya mengulang penyesalan beberapa tahun lalu.
berada di posisiku saat ini, posisi yang punya resiko tinggi karena secara gak langsung berhubungan dengan Tuhan. di posisi ini aku ngerasa useless, karena posisiku sama sekali tidak dibutuhkan. kadang aku merasa aneh. tapi senangnya sebentar lagi aku turun, bebanku terangkat. bagaimanapun mereka sudah jadi keluargaku.
alhamdulillah juga masih dikasih kesempatan deket sama mas. udah setahun terakhir ini nempel terus ke mas, kemana-mana ngajak mas, butuh ini itu larinya ke mas. bersyukur udah dikenalin sama orang kayak mas, yang bukan hanya jadi seseorang yang spesial, tapi juga bisa jadi kakak, sahabat, saudara.
sedihnya kalau ada kata perpisahan, walaupun sementara tapi sampai sekarang rasanya masih berat. dia gak nunggu aku, aku disini sendirian, bahkan ketika aku mengerjakan tugasku itu aku harus sendirian. entahlah kenapa berat sekali.
tapi mas nyempetin waktunya buat aku...
sering aku mikir, sampai kapan ini akan berhenti? malang-jakarta terasa berat buatku.
gimanapun juga alhamdulillah hidupku masih berwarna. banyak pelajaran yang aku ambil dari setahun ini. banyak orang-orang baru, suasana baru. jadi akhir tahun ini aku bisa tersenyum :) karena dengan bersyukur, tahunku begitu indah :) alhamdulillah :)
thanks my 2015 and welcome my future 2016 :)
tahun 2015 ngerasain semuanya, bahagia, sedih, marah, kecewa, hampir semua kata ungkapan ekspresi. ada hal-hal yang berubah drastis, ada juga hal yang sama sekali tidak berubah. tapi apapun itu tetep bersyukur udah diberi kesempatan ngerasain 2015.
mungkin hal yang terus terjadi dari tahun 2000 sekian sampai sekarang gak pernah berubah. kadang mikir, yaudahlah emang gini keadaannya mau gimana lagi. sedih, cemburu, kecewa jadi satu dan terus terulang. bukankah tidak seharusnya aku mencemburui hal semacam itu? faktanya aku selalu tersenyum sinis kala melihat orang lain :') alhamdulillahnya, mereka sudah mulai menganggapku dewasa, percaya aku sudah bisa menjaga diriku sendiri. dan untuk pertama kalinya beberapa hari yang lalu mereka mendengarkanku :')
2015, jadi akhir malas-malasan kuliah. sudah saatnya fokus, walaupun kadang nyesel. ternyata ngelakuin hal yang bukan passion kita itu berat banget. bahkan aku gak tau nanti gimana. dan menyesalnya, harusnya aku fokus sejak dulu...dan gak pernah coba-coba. dan kenapa rasanya mengulang penyesalan beberapa tahun lalu.
berada di posisiku saat ini, posisi yang punya resiko tinggi karena secara gak langsung berhubungan dengan Tuhan. di posisi ini aku ngerasa useless, karena posisiku sama sekali tidak dibutuhkan. kadang aku merasa aneh. tapi senangnya sebentar lagi aku turun, bebanku terangkat. bagaimanapun mereka sudah jadi keluargaku.
alhamdulillah juga masih dikasih kesempatan deket sama mas. udah setahun terakhir ini nempel terus ke mas, kemana-mana ngajak mas, butuh ini itu larinya ke mas. bersyukur udah dikenalin sama orang kayak mas, yang bukan hanya jadi seseorang yang spesial, tapi juga bisa jadi kakak, sahabat, saudara.
sedihnya kalau ada kata perpisahan, walaupun sementara tapi sampai sekarang rasanya masih berat. dia gak nunggu aku, aku disini sendirian, bahkan ketika aku mengerjakan tugasku itu aku harus sendirian. entahlah kenapa berat sekali.
tapi mas nyempetin waktunya buat aku...
sering aku mikir, sampai kapan ini akan berhenti? malang-jakarta terasa berat buatku.
gimanapun juga alhamdulillah hidupku masih berwarna. banyak pelajaran yang aku ambil dari setahun ini. banyak orang-orang baru, suasana baru. jadi akhir tahun ini aku bisa tersenyum :) karena dengan bersyukur, tahunku begitu indah :) alhamdulillah :)
thanks my 2015 and welcome my future 2016 :)
Tuesday, November 24, 2015
Wherever I've been, I'm nothing. I'm just a person with bad habit, even if in front of his eyes. I'm never be a beautiful one everywhere, so it's better if I stand by myself. Now matter it hurt, no matter it frighten. There's no reason to make me still exist into him. Maybe I'm just need to learning again how to be alone, how to do something alone, and for many times again learn how to not hurting someone else. I'm not a person who supposed anyone. I'm lack of everything. There's no need to hold me. I'm must standing alone.
Why I'm still exist?
If there's not a reason, why I'm still exist?
For who I must exist?
How if I'm not exist?
How if I'm not here?
Would everything gonna be okay?
I wish I'm not exist.
I'm nothing, and you dont need to push yourself for me.
I wish I'm not exist anymore.
Why I'm still exist?
If there's not a reason, why I'm still exist?
For who I must exist?
How if I'm not exist?
How if I'm not here?
Would everything gonna be okay?
I wish I'm not exist.
I'm nothing, and you dont need to push yourself for me.
I wish I'm not exist anymore.
Subscribe to:
Posts (Atom)
